Langsung ke konten utama

Postingan

Perkara Makan

Efek gak ada mbak sebulan lebih... anak-anak semua jadi terbiasa makan sendiri tanpa disuapi. Plus tertib selalu di meja makan. Si tengah (5 th) yang tadinya masih ogah2an dan maunya disuapi, sekarang sudah konsisten selalu makan sendiri. Menular ke adiknya si bungsu (2 th 10 bulan) juga sekarang jadi lebih senang makan sendiri di meja makan ketimbang disuapi sambil bermain. Alhamdulillah... sangat mengurangi kerepotan tanpa ART. Dan senangnya, justru makan mereka jadi lebih banyak. Bicara masalah makan anak, ini memang satu hal yang tricky alias susah-susah gampang, sering jadi momok para ortu, termasuk saya. Dari masalah susah makan, pilih-pilih, dsb. Waktu bisa habis banyak hanya mengurusi masalah makan anak saja, apalagi jika masih balita. Berhubung saya sekarang WFH dan sering di rumah hanya bersama anak-anak saja, saya harus putar otak. Strategi yang saya terapkan dan ternyata sangat efektif membuat anak-anak mau makan adalah dengan "menunggu" mereka lapar. Sudah j...

Mengenalkan Konsep Uang Pada Anak

Saya berusaha mengenalkan konsep "uang" kepada anak saya sejak dini. Bukan apa-apa, ini demi mencegah anak sering merengek minta dibelikan mainan atau barang yang dinginkannya, apalagi ketika pergi ke mal, toko mainan, supermarket, atau tempat lain. Ini juga menjadi bentuk kejujuran saya kepada anak-anak, karena saya pantang membohongi anak. Alhamdulillah, sejauh ini strategi saya cukup efektif meredam hal itu. Memang bukan hal yang mudah, karena si anak belum bisa berhitung, bahkan belum mengenal konsep angka. Tapi yang saya sampaikan adalah pemahaman tentang konsep uang, bukan uangnya. Intinya, saya memberi pemahaman bahwa: Untuk membeli sesuatu itu perlu menggunakan uang.  Uang bukanlah sumber yang tak terbatas dan bisa dihambur-hamburkan begitu saja.  Untuk mendapatkan sesuatu itu perlu usaha. Tentu cara penyampaiannya tidak segamblang menggunakan kata-kata di atas, tapi dengan cara dan bahasa yang dimengerti oleh anak kecil sesuai usianya. Awal mengenalk...

Cerita Tentang Rei & Rutinitas Paginya

Ini adalah pemandangan setiap pagi sebelum Rei berangkat ke sekolah. Dia sudah bisa memakai baju sekolahnya sendiri, lengkap dengan kaosnya dimasukkan rapi ke dalam celananya, di usianya yang baru saja genap 6 tahun. Semua dilakukan sendiri dengan cepat, tanpa drama, tanpa omelan, tanpa teriakan dari orang tuanya lagi. Tentu butuh proses sampai dia bisa lancar seperti sekarang. Yang awalnya masih sering salah, lama, dan tidak fokus. Tapi dia akhirnya bisa, karena saya sebagai orang tua memberinya kesempatan, dan percaya bahwa dia bisa. Orang lain mungkin melihat ini sebagai hal yang sepele, remeh, dan tidak penting. Tapi lihatlah bagaimana ekspresi bahagianya ketika dia berhasil menyelesaikan 'pekerjaannya' itu setiap pagi. Dia akan menghampiri saya dengan tawa cerianya memamerkan keberhasilannya itu, dan saya pun memberinya apresiasi dengan sebuah tepukan hi-5. Ini seolah menjadi kemenangannya setiap pagi, bisa menaklukkan rutinitas paginya sendiri. Ketika memulai hari den...

Memutus Mata Rantai: Kebiasaan Menyalahkan Keadaan & Orang Lain

Masih ingat kah apa yang orang tua kita lakukan waktu kita kecil dulu kalau kita menangis akibat terjatuh, terantuk, atau tersandung? Ya, tentu naluri orang tua adalah langsung menolong dan menghibur agar kita berhenti menangis. Tapi ingatkah apa yang dikatakan untuk menghibur kita? "Lantainya nakal nih!" "Pintunya nakal nih!" "Lemarinya nakal nih!" Kalau perlu sambil memdramatisasi dengan memukul-mukul lantai atau pintu yang menyebabkan kita menangis tadi. Di lain kesempatan, jika tidak bendanya yang disalahkan, mungkin pengasuh atau orang yang mendampingi si anak yang dijadikan kambing hitam demi menghibur si anak. "Mbaknya sih gak lihat." "Gimana sih si mbak." "Iya nih mbak." Entah sejak kapan cara seperti ini dilakukan. Tapi saya melihat cara yang sama persis diterapkan oleh bapak, ibu, dan mertua saya ketika menghibur cucunya yang jatuh dan menangis. Bisa jadi ini cara yang sudah dilakukan turun temurun ...

Refleksi Menjadi Orang Tua: Semua Itu Harus Diusahakan

Sejak punya anak, saya banyak sekali belajar, dan terpaksa harus belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Saya belajar bahwa anak tidak dilahirkan dengan sifat-sifat dan karakter baik dari sananya, di mana orang tua tinggal menikmatinya saja. Sebaliknya, anak juga tidak dilahirkan dengan sifat-sifat dan karakter buruk dari sananya, yang seolah menjadi kutukan bagi orang tuanya. Sejatinya tidak ada anak yang terlahir sebagai anak baik, nakal, atau jahat, yang ada adalah anak lahir dalam keadaan belum mengerti. Anak ibarat sebuah komputer yang masih kosong isinya ketika lahir, dan tugas orang tualah untuk “mengisinya” dengan program-program yang baik. Saya belajar bahwa baik buruknya perkembangan anak sangat tergantung dari pola asuh yang didapatnya. Dan semua itu harus diusahakan oleh orang tuanya. Ternyata tidak bisa kita berpikir, nanti kalau sudah besar juga akan mengerti sendiri. Nanti semakin besar juga akan berubah sendiri. Dari pengalaman saya, ternyata tidak demi...

Child Empowerment

Saya percaya setiap anak secara naluriah punya kemampuan untuk belajar sendiri secara mandiri sejak ia lahir ( self-learning ). Seorang anak punya kemampuan luar biasa untuk belajar dari setiap kesalahannya sendiri, tanpa perlu ada yang memberitahunya ( self-taught ). Sayangnya, sering kali orang tuanya sendirilah justru yang menjadikan kemampuan itu memudar seiring anak beranjak besar. Bagaimana tidak. Orang tua kerap terlalu takut dan tidak rela membiarkan anaknya melakukan kesalahan, alias cenderung over-protective . Ketimbang melihat si anak jatuh akibat mencoba turun sendiri dari kasur, orang tua lebih senang memegangi si anak. Ketimbang melihat si anak sedikit tersedak akibat mencoba makanan baru, orang tua lebih senang tidak memberikan makanan itu. Ketimbang melihat anaknya menangis, orang tua lebih senang membantu anak dalam segala hal.

Berkompromi Dengan Si Kecil 'Negosiator'

Anak pertama saya (5 tahun) bisa dibilang adalah tipe negosiator. Banyak sekali hal dan kegiatan sehari-hari yang menjadi proses tawar menawar dengannya. Mau mandi sekarang atau nanti, makan sekarang atau 30 menit lagi, tidur sekarang atau 5 menit lagi, bereskan mainan sekarang atau 5 menit lagi, mau makan dulu atau mandi dulu. Itu contoh sebagian dari tawar menawar itu. Dia juga tipe yang keras dengan pendiriannya, dan bisa mengarahkan apa yang menjadi maunya. Menghadapi anak seperti ini tidak hanya harus punya urat sabar yang panjang, tapi juga harus punya akal yang lebih panjang lagi. Kalau kita bersikap otoriter, malah justru akan membuat kondisi semakin kacau, karena pasti akan sering timbul konflik antara orang tua dan anak yang bisa membuat hubungan menjadi tidak sehat.