Langsung ke konten utama

Cerita Tak Terlupakan Ketika Berlibur di Negeri Timur


“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Al-Insyirah ayat 6)

Liburan ke Jepang kemarin, ada satu peristiwa berkesan yang gak mungkin saya lupakan. Bukan tentang liburannya itu sendiri, tapi tentang anak-anak saya.

Datang ke sebuah negara maju, segalanya terlihat lebih megah, lebih bersih, lebih canggih. Tapi di balik itu, aturan-aturan mereka juga jauh lebih strict.

Hari pertama tiba, kami berharap semuanya lancar, karena sudah persiapan booking hotel dari jauh-jauh hari. Namun begitu mau check-in, ternyata petugas hotel bilang bahwa ada masalah di booking kami, dan solusinya harus ada tambahan pembayaran yang nominalnya lumayan besar. Shock banget dengarnya. Padahal saya sudah sangat berhati-hati karena tahu betapa strict-nya aturan menginap di negara ini. Entah ini kesalahan di sistem atau apa, sulit menyalahkan siapa pun.

Satu jam lebih saya berusaha menjelaskan dan negosiasi dengan petugas hotel, di-backing istri di sebelah, tapi tetap gak ada titik temu, mereka bersikeras dengan aturan, gak ada ampun. Apalagi ini di negara orang, kami harus berbahasa Inggris, jadi gak bisa ngomel atau merayu-rayu petugas seperti kalau lagi di negara sendiri.

Di tengah kebuntuan, sesuatu terjadi.

Anak sulung saya (14 tahun), yang sejak tadi memperhatikan dari sebelah, tiba-tiba saja maju dan bicara langsung dengan petugas hotel. Dia mencecar beberapa pertanyaan ke petugas, seperti kenapa mereka gak merespon email dari saya yang dikirim beberapa minggu sebelumnya, gimana peraturan hotel sebetulnya, apakah pernah ada perubahan peraturan, dan sebagainya. Petugas hotel sampai harus menunjukkan peraturan, print-out bukti booking yang mereka terima dari agent, dan berbagai dokumen lain.

Cukup kaget sekaligus takjub, padahal saya gak minta dia untuk membantu.

Gak hanya itu. Seolah keberanian si sulung menular, anak kedua saya (10 tahun) ikut juga bicara dan mempertanyakan aturan hotel ke petugas. Dan semua itu dilakukan dalam bahasa Inggris.

Dobel takjub.

Tapi tentu saja saya pura-pura stay cool, gak menunjukkan ketakjuban saya.

Si sulung ini bukan cuma ikut-ikutan ngomong, tapi literally mengambil alih negosiasi dengan petugas. Saya sampai mundur untuk kasih dia kesempatan. Setelah itu, saya benar-benar menyerahkan proses selanjutnya di tangannya, biarkan dia sekarang yang memimpin berbicara. Apalagi jujur bahasa Inggris dia lebih lancar dibanding saya. Sampai akhirnya kami terpikir jalan tengah: downgrade kamar untuk mendapat dua kamar yang bersebelahan. Kami tetap harus membayar biaya tambahan, tapi jauh lebih rendah dari angka awal.

Walaupun tetap ada biaya ekstra yang lumayan dan terpaksa downgrade kamar, momen itu memberi arti tersendiri buat saya. Momen yang membuat saya melihat anak-anak saya secara berbeda. Rasanya campur aduk antara kaget, terharu, dan bangga.

Anak-anak cowok ini sudah bisa berdiri membela keluarganya. Terutama si sulung. Dia sudah menunjukkan inisiatif, keberanian, empati, kemampuan komunikasi, leadership, dan rasa tanggung jawab.

Mungkin ini buah dari pola asuh yang selalu memberi mereka ruang untuk berpendapat dan punya pendirian, tidak menuntut mereka untuk menurut secara buta. Mungkin ini hasil dari sekolah yang tepat, yang membuat mereka berani speak up. Entah lah. Saya pun orang tua yang masih jauh dari sempurna.

Ini jadi pengingat buat saya sebagai orang tua agar terus memperbaiki diri dalam mengasuh dan membimbing mereka. Selalu letakkan sikap respect dan humble setinggi-tingginya, karena merekalah calon-calon pemimpin masa depan yang Insya Allah akan menjadi orang-orang yang jauh lebih hebat daripada orang tuanya.

Yang juga penting, tidak perlu terlalu panik dan mengomel berlebihan dalam kondisi sulit, karena pertolongan dari Allah itu nyata, dan selalu ada hikmah yang Dia selipkan dalam segala peristiwa.

Anak-anak saya mungkin belum pernah memenangkan kompetisi dan membawa pulang piala. Tapi hari itu, mereka sudah memberi piala yang sangat berharga di hati saya. Terima kasih anak-anakku!

Hari itu, saya mohon ampun sama Allah atas segala teguran-Nya, sekaligus bersyukur atas karunia yang tak terhingga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Tangki Cinta Anak

Ini adalah tulisan yang saya rangkum dari Bab 1-2 buku "Hypnotherapy for Children" karya Adi W. Gunawan, seorang ahli hipnoterapi. Penjelasan teori dalam buku tersebut banyak membukakan mata saya mengenai apa yang sebenarnya menjadi "akar permasalahan" ketika perilaku anak kita bermasalah. Ini sangat membantu saya memahami anak dan bagaimana saya harus bersikap dan memperlakukan anak. Bagi saya ini bukan hanya sekedar teori. Tidak ada yang mengatakan menjadi orang tua itu gampang, tapi tidak ada yang mustahil untuk ditangani selama kita berpikir positif. Karena itu saya pribadi selalu membaca dan membekali diri saya dengan ilmu parenting sebanyak-banyaknya, sambil tidak lupa selalu melakukan introspeksi diri dan open-minded , yaitu berusaha tidak menyangkal jika ada masalah dan mengakui jika kita melakukan kesalahan. Jika orang tua selalu dalam posisi  denial , sesungguhnya anak juga lah yang akan jadi korban, dan itu akan menjadi bumerang bagi orang tuanya se...

Ikut Seminar Money Mastery Game Bersama Tung Desem Waringin

Dengan niat mencari ilmu demi perencanaan keuangan untuk masa depan keluarga, hari Minggu kemarin, 26 April 2015, saya iseng ikut seminar bertajuk "Money Mastery Game" yang dibawakan oleh motivator terkenal Tung Desem Waringin (TDW). Sudah lama saya mendengar nama besar TDW, dan banyak yang bilang seminarnya bagus, bahkan konon orang rela antri untuk ikut. Makanya saya jadi penasaran. Apalagi disebut seminar ini diperuntukkan bagi yang mau meningkatkan penghasilannya... Wow, mata saya langsung hijau! Di hari H, saya datang ke lokasi seminar di Gajah Mada Plaza, Jakarta, di Wedding Hall lantai 7 (saya juga baru tahu kalau di GM Plaza ada Wedding Hall). Pesertanya ternyata lumayan banyak, mungkin hampir 500 orang. Seminar dijadwalkan mulai jam 9 pagi dan selesai jam 5 sore.  Tapi ternyata seminar molor belum selesai juga sampai lewat jam 5 sore. Saya memutuskan untuk pulang jam 5.30, karena sudah tidak ada yang menarik menurut saya. Terus terang seminar ini tidak sesuai denga...

Cerita Setelah 4 Bulan Sekolah di Preschool HS

Tahun lalu kami sempat sangat sedih ketika mengetahui anak pertama kami, Rei (saat ini 4 tahun), ditolak masuk di sekolahnya yang sekarang. Tapi sepertinya memang Allah sudah punya rencana lain. Banyak hikmah positif yang bisa diambil dari peristiwa itu. Hikmah pertama, kami jadi berusaha lebih keras untuk mengejar “ketertinggalan” yang dialami Rei. Dari mulai mengurangi dan akhirnya menghentikan gadget, lebih banyak berinteraksi dua arah dengannya, sampai berusaha membuat bicaranya menjadi lebih jelas, bahkan lewat ahli terapi wicara. Alhamdulillah, Rei berhasil dan dinyatakan diterima di percobaan masuknya yang kedua di tahun berikutnya. Hikmah kedua adalah, kami jadi bisa lebih membandingkan hasil pendidikan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya, dan menilai mana kurikulum yang memberikan hasil yang lebih nyata. Dan dengan begitu juga kami bisa lebih yakin apakah kami sudah membuat keputusan yang tepat. Untuk anak kedua, kami jadi bisa lebih siap dan tidak perlu melakukan...