Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label anak baik

Mengenalkan Konsep Uang Pada Anak

Saya berusaha mengenalkan konsep "uang" kepada anak saya sejak dini. Bukan apa-apa, ini demi mencegah anak sering merengek minta dibelikan mainan atau barang yang dinginkannya, apalagi ketika pergi ke mal, toko mainan, supermarket, atau tempat lain. Ini juga menjadi bentuk kejujuran saya kepada anak-anak, karena saya pantang membohongi anak. Alhamdulillah, sejauh ini strategi saya cukup efektif meredam hal itu. Memang bukan hal yang mudah, karena si anak belum bisa berhitung, bahkan belum mengenal konsep angka. Tapi yang saya sampaikan adalah pemahaman tentang konsep uang, bukan uangnya. Intinya, saya memberi pemahaman bahwa: Untuk membeli sesuatu itu perlu menggunakan uang.  Uang bukanlah sumber yang tak terbatas dan bisa dihambur-hamburkan begitu saja.  Untuk mendapatkan sesuatu itu perlu usaha. Tentu cara penyampaiannya tidak segamblang menggunakan kata-kata di atas, tapi dengan cara dan bahasa yang dimengerti oleh anak kecil sesuai usianya. Awal mengenalk...

Refleksi Menjadi Orang Tua: Semua Itu Harus Diusahakan

Sejak punya anak, saya banyak sekali belajar, dan terpaksa harus belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Saya belajar bahwa anak tidak dilahirkan dengan sifat-sifat dan karakter baik dari sananya, di mana orang tua tinggal menikmatinya saja. Sebaliknya, anak juga tidak dilahirkan dengan sifat-sifat dan karakter buruk dari sananya, yang seolah menjadi kutukan bagi orang tuanya. Sejatinya tidak ada anak yang terlahir sebagai anak baik, nakal, atau jahat, yang ada adalah anak lahir dalam keadaan belum mengerti. Anak ibarat sebuah komputer yang masih kosong isinya ketika lahir, dan tugas orang tualah untuk “mengisinya” dengan program-program yang baik. Saya belajar bahwa baik buruknya perkembangan anak sangat tergantung dari pola asuh yang didapatnya. Dan semua itu harus diusahakan oleh orang tuanya. Ternyata tidak bisa kita berpikir, nanti kalau sudah besar juga akan mengerti sendiri. Nanti semakin besar juga akan berubah sendiri. Dari pengalaman saya, ternyata tidak demi...

Hal-hal Kecil Yang Membuat Saya Bahagia

Tadi malam di rumah sepulang saya dari kantor… Rei : “Pa, ini buat Reivano ya?” (sambil main mobil-mobilan yang baru saya beli online) Saya : “Iya, buat Rei” Rei : “Bagus banget. Terima kasih ya pa” *sambil nyengir lebar, diulang ngomong gitu sampai 2-3x Saya: “Oh iyaa… sama2” Selesai main… Rei : “Diberesin dulu mainannya pa” Langsung masuk-masukin sendiri semua mobil-mobilannya ke tas mainan, ditutup rapi, dan ditaruh di pinggir lemari Menjelang tidur…

Tantangan: Tidak Pernah Marah dan Berkata "Jangan" Pada Anak

Yup, sejak anak pertama saya (Rei) lahir sampai sekarang umur 3,5 tahun, saya belum pernah memarahi dan berkata "jangan" ke dia. Saya sama sekali tidak pernah membentak, meneriaki, atau sekedar menghardik "Hayo!". Bahkan saya tidak pernah memarahinya ketika dia sedang berulah atau berbuat salah. Mungkin pernah beberapa kali saya sedikit lepas emosi, tapi saya selalu berusaha meredam dan tidak menunjukkannya kepada anak. Saya juga tidak pernah melarang atau berkata "Jangan" untuk apapun yang dia lakukan. Ini memang polah asuh yang saya pilih. Dari membaca sana-sini, saya berkesimpulan dan akhirnya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan memarahi dan "melarang" anak, setidaknya sampai dia berumur 7 tahun. Tentu bukan berarti saya membiarkan dan memanjakan anak, justru dengan pola asuh seperti ini saya selalu mengontrol dan mengarahkan si anak, namun bukan dengan cara menekan si anak. Kalau di barat sana, inilah yang dinamakan " Po...