Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label anak positif

Mengenalkan Konsep Uang Pada Anak

Saya berusaha mengenalkan konsep "uang" kepada anak saya sejak dini. Bukan apa-apa, ini demi mencegah anak sering merengek minta dibelikan mainan atau barang yang dinginkannya, apalagi ketika pergi ke mal, toko mainan, supermarket, atau tempat lain. Ini juga menjadi bentuk kejujuran saya kepada anak-anak, karena saya pantang membohongi anak. Alhamdulillah, sejauh ini strategi saya cukup efektif meredam hal itu. Memang bukan hal yang mudah, karena si anak belum bisa berhitung, bahkan belum mengenal konsep angka. Tapi yang saya sampaikan adalah pemahaman tentang konsep uang, bukan uangnya. Intinya, saya memberi pemahaman bahwa: Untuk membeli sesuatu itu perlu menggunakan uang.  Uang bukanlah sumber yang tak terbatas dan bisa dihambur-hamburkan begitu saja.  Untuk mendapatkan sesuatu itu perlu usaha. Tentu cara penyampaiannya tidak segamblang menggunakan kata-kata di atas, tapi dengan cara dan bahasa yang dimengerti oleh anak kecil sesuai usianya. Awal mengenalk...

Memutus Mata Rantai: Kebiasaan Menyalahkan Keadaan & Orang Lain

Masih ingat kah apa yang orang tua kita lakukan waktu kita kecil dulu kalau kita menangis akibat terjatuh, terantuk, atau tersandung? Ya, tentu naluri orang tua adalah langsung menolong dan menghibur agar kita berhenti menangis. Tapi ingatkah apa yang dikatakan untuk menghibur kita? "Lantainya nakal nih!" "Pintunya nakal nih!" "Lemarinya nakal nih!" Kalau perlu sambil memdramatisasi dengan memukul-mukul lantai atau pintu yang menyebabkan kita menangis tadi. Di lain kesempatan, jika tidak bendanya yang disalahkan, mungkin pengasuh atau orang yang mendampingi si anak yang dijadikan kambing hitam demi menghibur si anak. "Mbaknya sih gak lihat." "Gimana sih si mbak." "Iya nih mbak." Entah sejak kapan cara seperti ini dilakukan. Tapi saya melihat cara yang sama persis diterapkan oleh bapak, ibu, dan mertua saya ketika menghibur cucunya yang jatuh dan menangis. Bisa jadi ini cara yang sudah dilakukan turun temurun ...

Child Empowerment

Saya percaya setiap anak secara naluriah punya kemampuan untuk belajar sendiri secara mandiri sejak ia lahir ( self-learning ). Seorang anak punya kemampuan luar biasa untuk belajar dari setiap kesalahannya sendiri, tanpa perlu ada yang memberitahunya ( self-taught ). Sayangnya, sering kali orang tuanya sendirilah justru yang menjadikan kemampuan itu memudar seiring anak beranjak besar. Bagaimana tidak. Orang tua kerap terlalu takut dan tidak rela membiarkan anaknya melakukan kesalahan, alias cenderung over-protective . Ketimbang melihat si anak jatuh akibat mencoba turun sendiri dari kasur, orang tua lebih senang memegangi si anak. Ketimbang melihat si anak sedikit tersedak akibat mencoba makanan baru, orang tua lebih senang tidak memberikan makanan itu. Ketimbang melihat anaknya menangis, orang tua lebih senang membantu anak dalam segala hal.

Berkompromi Dengan Si Kecil 'Negosiator'

Anak pertama saya (5 tahun) bisa dibilang adalah tipe negosiator. Banyak sekali hal dan kegiatan sehari-hari yang menjadi proses tawar menawar dengannya. Mau mandi sekarang atau nanti, makan sekarang atau 30 menit lagi, tidur sekarang atau 5 menit lagi, bereskan mainan sekarang atau 5 menit lagi, mau makan dulu atau mandi dulu. Itu contoh sebagian dari tawar menawar itu. Dia juga tipe yang keras dengan pendiriannya, dan bisa mengarahkan apa yang menjadi maunya. Menghadapi anak seperti ini tidak hanya harus punya urat sabar yang panjang, tapi juga harus punya akal yang lebih panjang lagi. Kalau kita bersikap otoriter, malah justru akan membuat kondisi semakin kacau, karena pasti akan sering timbul konflik antara orang tua dan anak yang bisa membuat hubungan menjadi tidak sehat.

Hal-hal Kecil Yang Membuat Saya Bahagia

Tadi malam di rumah sepulang saya dari kantor… Rei : “Pa, ini buat Reivano ya?” (sambil main mobil-mobilan yang baru saya beli online) Saya : “Iya, buat Rei” Rei : “Bagus banget. Terima kasih ya pa” *sambil nyengir lebar, diulang ngomong gitu sampai 2-3x Saya: “Oh iyaa… sama2” Selesai main… Rei : “Diberesin dulu mainannya pa” Langsung masuk-masukin sendiri semua mobil-mobilannya ke tas mainan, ditutup rapi, dan ditaruh di pinggir lemari Menjelang tidur…