Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label hypno parenting

Kesalahan Terbesar Ortu Dalam Berkomunikasi dengan Anak

Merasa anak suka melawan, tidak mau menurut, susah diajak kerja sama? Jangan buru-buru mencap buruk atau menyalahkan si anak. Coba introspeksi diri, mungkin cara berkomunikasi orang tua kepada anak yang selama ini salah. Salah satu kesalahan terbesar orang tua dalam berkomunikasi dengan anak adalah menganggap anaknya adalah anak kecil. Maksudnya? Tentu saja mereka memang masih kecil, tapi yang dimaksud di sini adalah dalam hal cara memperlakukan si anak. Anak kerap dianggap anak kecil yang pantas untuk dihardik, diomeli, diteriaki, dibentak. Juga omongannya sering kurang dianggap dan didengar. Padahal anak sejatinya sama saja seperti kita manusia dewasa, hanya saja mereka bertubuh kecil dan masih harus banyak belajar. Intinya, mereka adalah manusia kecil.

Kontroversi Pola Asuh Tidak Pernah Memarahi dan Berkata "Jangan" ke Anak

Konsep pola asuh yang tidak pernah memarahi dan tidak pernah berkata "jangan" kepada anak sepertinya memang masih dianggap sesuatu yang aneh dan tidak biasa. Beberapa kali saya mendapat respon yang tidak terduga ketika saya mengungkapkannya kepada orang lain. Padahal menurut saya ini pola asuh yang masuk akal, ilmiah, positif, dan sesuai fitrah anak-anak. Pernah suatu hari saya menceritakan hal ini kepada teman sekantor, yang kebetulan juga punya anak laki-laki seumuran anak saya. Reaksi dia adalah, "Ah, itu mah anak kamu saja yang memang dari sananya penurut." Di lain waktu teman saya lainnya malah bilang bahwa cara ini adalah cara didik dari barat dan tidak sesuai dengan ajaran agama. Hmm oke (tarik nafas dulu sebentar).

Melawan Mitos Tentang Pengasuhan Anak (Part 2)

Ternyata banyak hal-hal yang selama ini dianut dan dipahami oleh orang tua dalam hal mengasuh anak adalah pemahaman atau mitos yang salah. Celakanya, mitos-mitos tersebut sedikit banyak menghambat perkembangan anak, bahkan bisa sangat merugikan. Selama lebih dari 3 tahun menjadi seorang ayah, hal-hal tersebut satu per satu mulai terungkap. Dari hasil pengalaman pribadi dengan anak saya sendiri, dan juga hasil mengumpulkan info dari sana sini, saya menyimpulkan hal-hal di bawah ini adalah pemahaman atau mitos yang salah. Ini merupakan sambungan dari  Part 1 4.  Picky eater adalah keturunan dan tidak bisa dicegah Mitos : Sifat picky eater atau pilih-pilih makanan adalah keturunan dan tidak bisa dicegah. Kalau orang tuanya dulu cenderung picky eater , ada kemungkinan anaknya pun demikian.

Tantangan: Tidak Pernah Marah dan Berkata "Jangan" Pada Anak

Yup, sejak anak pertama saya (Rei) lahir sampai sekarang umur 3,5 tahun, saya belum pernah memarahi dan berkata "jangan" ke dia. Saya sama sekali tidak pernah membentak, meneriaki, atau sekedar menghardik "Hayo!". Bahkan saya tidak pernah memarahinya ketika dia sedang berulah atau berbuat salah. Mungkin pernah beberapa kali saya sedikit lepas emosi, tapi saya selalu berusaha meredam dan tidak menunjukkannya kepada anak. Saya juga tidak pernah melarang atau berkata "Jangan" untuk apapun yang dia lakukan. Ini memang polah asuh yang saya pilih. Dari membaca sana-sini, saya berkesimpulan dan akhirnya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan memarahi dan "melarang" anak, setidaknya sampai dia berumur 7 tahun. Tentu bukan berarti saya membiarkan dan memanjakan anak, justru dengan pola asuh seperti ini saya selalu mengontrol dan mengarahkan si anak, namun bukan dengan cara menekan si anak. Kalau di barat sana, inilah yang dinamakan " Po...

Hypno-parenting, Apakah Itu?

Mau share sedikit tentang Hypnoparenting... Mungkin banyak orang tua yang kerap merasa anaknya sulit sekali diajak bekerja sama dan berkomunikasi. Sudah dilarang berulang kali, tapi si anak masih tetap saja melakukannya. Ujung-ujungnya orang tua menganggap anaknya susah diatur dan nakal. Sejatinya, tidak ada anak yang nakal, hanya saja mereka belum mengerti. Yang ada adalah mungkin cara berkomunikasi orang tua ke anak yang selama ini salah. Hypno-parenting comes to the rescue :) Teorinya, manusia itu 88% pikirannya dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, dan hanya 12% saja dikendalikan oleh pikiran sadar. Pikiran sadar terdiri dari fungsi analitikal, rasional, memori jangka pendek, dan kemauan. Sementara pikiran bawah sadar berisi kepercayaan ( belief ), nilai ( value ), kebiasaan, memori jangka panjang, kepribadian, intuisi, dan persepsi. Pikiran sadar sendiri baru terbentuk sejak manusia berumur 3 tahun, dan

Wish List For My Second Child, Kelvin

Pengalaman adalah guru terbaik. Your best teacher is your last mistakes. Belajar dari pengalaman dengan anak pertama, Rei, beserta segala kekurangan dan kesalahan yang kami lakukan, saya berharap untuk anak kedua, Kelvin, kami bisa menerapkan pengasuhan yang lebih baik. Bukan berarti dengan Rei gagal ya, tapi semata-mata supaya segala sesuatu yang baik bisa dimulai lebih awal, dan hasilnya juga bisa lebih baik dan optimal. Karena itu, saya sengaja membuat wish list ini untuk Kelvin: Gak minum susu formula sama sekali. Bayi hanya butuh ASI, bukan susu sapi. Jangan bilang "Jangan" atau "No no". Hypnoparenting, afirmasi positif. Baby led weaning (BLW). Yup, pengen banget, supaya si kecil mau makan banyak buah dan sayuran, juga mendapat efek-efek positif lainnya. No TV and gadget until 2 years old. Komunikasi face to face lebih banyak membantu bayi berkembang dan cepat bicara. Dan berikut ini penjelasannya: