Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label active learning

Seperti Apakah Model Pendidikan Abad 21 Itu?

Membicarakan pendidikan, saya selalu teringat dengan ilustrasi di gambar ini yang konon diinspirasi oleh  quote  dari Einstein (gambar diambil dari google). Ya seperti itulah pendidikan kita sekarang. Anak cenderung diwajibkan mencapai standar yang sama. Anak pintar adalah anak yang jago matematika, sains, dan mata pelajaran semacamnya. Sisanya, ya anak bodoh. Menyedihkan sekali bukan? Saya jadi mau berbagi mengenai satu sekolah yang menurut saya memiliki kurikulum dan metode yang cocok dengan kriteria pendidikan abad 21. Ini berdasarkan pengalaman nyata, dan apa yang saya lihat jauh sekali dibanding pendidikan konvensional yang saya dapat waktu kecil dulu. Tidak Ada Ranking di Kelas Sekolah ini tidak lagi menerapkan peringkat ranking di kelas. Setiap anak dianggap sebagai individu yang unik yang berbeda-beda, karena itu tidak bisa disamaratakan pencapaian dan cara belajarnya. Penerapan ranking sama saja artinya menerapkan standarisasi yang sama ke semua anak. Melatih Murid Un...

Cerita Tentang Rei & Rutinitas Paginya

Ini adalah pemandangan setiap pagi sebelum Rei berangkat ke sekolah. Dia sudah bisa memakai baju sekolahnya sendiri, lengkap dengan kaosnya dimasukkan rapi ke dalam celananya, di usianya yang baru saja genap 6 tahun. Semua dilakukan sendiri dengan cepat, tanpa drama, tanpa omelan, tanpa teriakan dari orang tuanya lagi. Tentu butuh proses sampai dia bisa lancar seperti sekarang. Yang awalnya masih sering salah, lama, dan tidak fokus. Tapi dia akhirnya bisa, karena saya sebagai orang tua memberinya kesempatan, dan percaya bahwa dia bisa. Orang lain mungkin melihat ini sebagai hal yang sepele, remeh, dan tidak penting. Tapi lihatlah bagaimana ekspresi bahagianya ketika dia berhasil menyelesaikan 'pekerjaannya' itu setiap pagi. Dia akan menghampiri saya dengan tawa cerianya memamerkan keberhasilannya itu, dan saya pun memberinya apresiasi dengan sebuah tepukan hi-5. Ini seolah menjadi kemenangannya setiap pagi, bisa menaklukkan rutinitas paginya sendiri. Ketika memulai hari den...

Cerita Setelah 4 Bulan Sekolah di Preschool HS

Tahun lalu kami sempat sangat sedih ketika mengetahui anak pertama kami, Rei (saat ini 4 tahun), ditolak masuk di sekolahnya yang sekarang. Tapi sepertinya memang Allah sudah punya rencana lain. Banyak hikmah positif yang bisa diambil dari peristiwa itu. Hikmah pertama, kami jadi berusaha lebih keras untuk mengejar “ketertinggalan” yang dialami Rei. Dari mulai mengurangi dan akhirnya menghentikan gadget, lebih banyak berinteraksi dua arah dengannya, sampai berusaha membuat bicaranya menjadi lebih jelas, bahkan lewat ahli terapi wicara. Alhamdulillah, Rei berhasil dan dinyatakan diterima di percobaan masuknya yang kedua di tahun berikutnya. Hikmah kedua adalah, kami jadi bisa lebih membandingkan hasil pendidikan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya, dan menilai mana kurikulum yang memberikan hasil yang lebih nyata. Dan dengan begitu juga kami bisa lebih yakin apakah kami sudah membuat keputusan yang tepat. Untuk anak kedua, kami jadi bisa lebih siap dan tidak perlu melakukan...

Berurusan dengan Anak Kinestetik

Baru menemukan artikel di bawah ini dari suatu website luar, dan baru sadar bahwa anak pertama saya, Rei, sesungguhnya memang tipe anak kinestetik. Inilah penjelasannya kenapa dia: Tidak bisa duduk diam dalam waktu yang lama di manapun dia berada ( A child who has a kinaesthetic learning style cannot just sit still ) Selalu ingin mencoba benda baru tanpa menunggu penjelasan dulu tentang cara menggunakannya ( cannot just sit still and wait for information to be given. They surpass in finding out things for themselves without any needs for guidance. ) Selalu ingin tahu cara bekerja suatu benda atau mainan. Itulah kenapa mainan di rumah banyak yang dibongkar sampai tidak berbentuk lagi ( he or she is fond of tinkering with toys, trying to find out how they work ) Tidak pernah protes kalau diajak pergi ke manapun, bahkan ke tempat-tembat yang tidak ada mainan di situ (mis. toko baju), tapi dia tetap bisa menghibur dirinya sendiri dengan berlari-lari atau bermain dengan benda apa s...

The Reasons I Chose This School

This article is not intended to persuade or to convince anyone. It's just a note to myself as to remembering my decision in choosing the education that I feel right for my kids. First of all, I didn't choose this school because of its "International School" tag. In fact, the "International" tag had made my doubts in the beginning. It all started from my long contemplation of the education system that I went through all my life. It's about the curriculum. Basically, I feel the conventional curriculum no longer sufficient for future competitiveness, as the learning is a one-way instructional from teachers to students. It doesn't help motivate and develop creative way of thinking and stimulate the excitement of learning. The conventional curriculum puts too much emphasis on academic and too much pressure on students, it is even doing more damage to them. When kids feel pressurised, their brain cells stop to grow.

School Time is Coming!

Yeay... school time is coming! Today, we just attended PSTIC, Parent-Student-Teacher Initial Conference, at the new school that we enrolled to for our first son, Rei (3 years 8 months old). We're so excited about it, because we've been waiting for a year to finally be able to enrol him to this school. He is the same excited as we are. This is the kind of school that I could only dream of I could ever go to. If only this kind of school existed as I was a kid. I fell in love with it since the first time I attended its open house about one and a half years ago. It's so different than other schools. It's not about the facility per se, I've seen better than this. It's about the curriculum, and how they view child's development in very detail. They apply the so called "Active Learning" curriculum. I know that the jargon is common nowadays in other comparable schools. But I can say that they implement "true" active learning, because it's...

Analogi Sekolah dan Komputer

Saya suka mengikuti tulisan-tulisan Ayah Edy, karena sangat membuka pikiran dan wawasan sebagai orang tua. Pemikiran-pemikirannya masalah pendidikan dan pengasuhan anak banyak yang sejalan dengan apa yang saya pikirkan (bahkan yang belum pernah terpikir oleh saya). Di bawah ini ada satu tulisan tentang sekolah untuk anak. Saya tidak tahu siapa ahli komputer yang dia sebut di situ, tapi analogi yang disampaikan cukup masuk akal. Saya sendiri sudah lama mempertanyakan masa-masa saya sekolah dulu, yang menurut saya sangat membosankan dan tidak menyenangkan. Namun hasilnya untuk bekal berjuang di kehidupan nyata sangat-sangat jauh. Banyak sekali bekal hidup sesungguhnya yang tidak saya dapat dari sekolah, meskipun nilai-nilai sekolah saya dulu cukup baik. Alhasil saya betul-betul struggle ketika pertama kali saya lepas dari bangku pendidikan dan harus mandiri, alias bekerja. Saya dulu berpikir nilai yang baik di sekolah adalah segalanya, tapi saya salah.