Peace, Tolerance, & Respect (PTR) adalah nama a cara tahunan yang diselenggarakan oleh sekolah anak-anak saya. Anak-anak menginap dua hari satu malam di sekolah dalam rangka bulan Ramadhan, tapi uniknya diikuti oleh siswa dari semua agama. Yang muslim menjalani semacam pesantren kilat. Yang Katolik melakukan retreat singkat. Yang Kristen, Buddha, Hindu juga punya kegiatannya masing-masing. Selain itu ada beberapa kegiatan yang dihadiri oleh semua siswa lintas agama, di mana di situ mereka melakukan diskusi dan berdialog. Ada juga pembicara tamu dari beberapa organisasi yang menjunjung toleransi seperti dari Wahid Foundation dan Gusdurian. Anak-anak tidur di ruangan-ruangan kelas, di mana siswa dari berbagai agama berbaur di situ. Acara yang menurut saya sangat positif yang memberi pelajaran bagi siswa bahwa perbedaan itu memang ada, tapi kita bisa saling menghormati tanpa mengurangi keimanan masing-masing. Jujur selama ini saya terkadang merasa minder melihat anak-anak di keluarga ...
Rhenald Kasali ternyata pernah gak naik kelas waktu sekolah dulu. Begitu juga Dimas Jayadiningrat. Tapi mereka tetap bisa menjadi orang sukses. Kenapa bisa begitu? Ini jadi menimbulkan pertanyaan. Apakah nilai akademik adalah segalanya? Atau ada hal lain yang lebih penting dalam pendidikan? Indonesia punya Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, dengan gagasan tentang pendidikannya yang luar biasa. Konon sistem pendidikan di Finlandia yang terkenal maju justru sejalan dengan gagasan beliau. Ironisnya, pendidikan di Indonesia sendiri sangat jauh dari itu. Ajaran "Tut Wuri Handayani" lebih sering jadi slogan belaka daripada kenyataan. Sebagai orang yang pernah mengalami pahitnya mengejar nilai akademik ketika sekolah dulu, namun menyadari ternyata kenyataan tidak seindah harapan, dan sekarang menjadi ortu yang sedang berjuang memberikan pendidikan terbaik buat anak-anak sendiri, saya selalu tertarik dengan hal-hal yang memberi wawasan baru tentang pendidikan. Harapan mas...