Langsung ke konten utama

School Has To Be Fun!

Remembering those days when I was a kid...

I never thought Kindergarten was fun…. I never even thought school was fun at all. School was like a big burden on my shoulder that I was being pushed to carry, out of an obligation as a kid. Sometimes the push felt a bit harsh too.

I realised today that it was probably the reason why I didn’t fully develop myself, besides academically. All we were measured was just by scores, which somehow I managed to ‘escape’ most of the time. That old paradigm, "As long as your academic scores are good, then you're okay," had turned out to drag me down.

No one was to be blamed, neither were my parents. All they knew was it was the best thing for me. And there was no other choices anyway.

Being a parent today, I want to make sure I don’t do the same mistakes to my kids. School has to be fun! Hence why I'm being very selective in choosing one, in a sense that it must have certain qualities.

Scores should not be everything in a kid’s life. Rank system should be banished. Let the kids develop as they are, and not being pushed out of their parents' ambitions. That way, I hope I can see them grow fully not only as a good and intelligent human, but most importantly, also being the best of themselves.

School has to be fun!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Tangki Cinta Anak

Ini adalah tulisan yang saya rangkum dari Bab 1-2 buku "Hypnotherapy for Children" karya Adi W. Gunawan, seorang ahli hipnoterapi. Penjelasan teori dalam buku tersebut banyak membukakan mata saya mengenai apa yang sebenarnya menjadi "akar permasalahan" ketika perilaku anak kita bermasalah. Ini sangat membantu saya memahami anak dan bagaimana saya harus bersikap dan memperlakukan anak. Bagi saya ini bukan hanya sekedar teori. Tidak ada yang mengatakan menjadi orang tua itu gampang, tapi tidak ada yang mustahil untuk ditangani selama kita berpikir positif. Karena itu saya pribadi selalu membaca dan membekali diri saya dengan ilmu parenting sebanyak-banyaknya, sambil tidak lupa selalu melakukan introspeksi diri dan open-minded , yaitu berusaha tidak menyangkal jika ada masalah dan mengakui jika kita melakukan kesalahan. Jika orang tua selalu dalam posisi  denial , sesungguhnya anak juga lah yang akan jadi korban, dan itu akan menjadi bumerang bagi orang tuanya se...

Proses Lebih Penting daripada Hasil (Kaitannya dengan Pola Asuh Anak)

Pola pikir yang lebih mementingkan HASIL ketimbang PROSES sepertinya memang sudah sangat mendarah daging di masyarakat kita. Dari hal kecil yang bisa kita temui sehari-hari, sampai hal besar, semua mencerminkan kalau ‘kita’ memang lebih senang langsung menikmati hasil, tapi enggan atau malas melewati prosesnya. Ini artinya lebih banyak orang yang tidak sabar, cenderung ambil jalan pintas, dan mau gampangnya saja, yang penting hasilnya tercapai. Hasil memang penting, tapi proses untuk mencapai hasil itu lebih penting lagi. Gak percaya? Tidak usah jauh-jauh. Untuk mendapat nilai A di sekolah, banyak cara yang bisa ditempuh. Lebih baik mana, si Ali yang belajar sungguh-sungguh, atau si Mawar yang mendapat nilai atas hasil mencontek? Dua-duanya sama mendapat nilai A. Tapi proses untuk mencapai nilai A itu yang membuat si Ali jauh lebih berkualitas dibanding si Mawar. Di dunia nyata pasti akan kelihatan ketika mereka harus mengimplementasikan ilmu yang mereka miliki. Memang sudah ...

Membangun Trust & Menjaga Hubungan Baik dengan Anak

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan  Kontroversi Pola Asuh Tidak Pernah Marah dan Berkata "Jangan" Kalau ingin anak kita berkembang menjadi anak yang positif, menjadi orang tua yang otoriter bukanlah solusinya. Memarahi dan menghukum anak hanya akan membuat anak menjadi takut pada orang tuanya; takut ketahuan, takut dihukum, dsb., tapi tidak mendidik dan memberi pengertian yang sesungguhnya pada anak. Malah bisa jadi nanti anak jadi suka berbohong dan melakukan perbuatan sembunyi-sembunyi dari orang tuanya. Mengasuh anak adalah suatu proses timbal balik, bukan hanya satu arah dari orang tua ke anak. Ini sama saja membangun Trust dua arah antara orang tua dan anak. Tidak pernah memarahi dan tidak pernah berkata "jangan" saja tidak cukup, perlu usaha dan tekad untuk membangun hubungan baik dengan anak secara konsisten dan berkesinambungan. Saya menemukan bahwa kalau kita bisa menjaga hubungan yang baik dan Trust  dua arah dengan anak sudah terbangun,...